Ullen Sentalu museum terpencil

Tugu Pal Putih, penanda titik nol kilometer, Yogyakarta

Tugu Pal Putih, penanda titik nol kilometer, Yogyakarta

Indonesia kaya akan budaya. Dan soal budaya, Jogja adalah gudangnya. Gw sebut gudang, bukan berarti teronggok dan dianggurin begitu aja. Budaya di daerah istimewa itu masih bisa dinikmati hingga kini. Lihat saja keraton atau istana kesultanannya, batiknya, gudegnya, keramahannya, dan banyak lagi yang lainnya.

Buat peminat riwayat nagari Ngayogjakarta Hadiningrat, ada banyak saksi sejarah dan monumen di ibukota perjuangan ini. Benteng Vredeburg, Tugu Pal Putih, Monumen Jogja Kembali, Museum Sonobudoyo, Museum Affandi, huahhh banyak banget. Terlalu banyak untuk disebutkan. Tak hanya mengabadikan kejayaan pra kemerdekaan, tapi juga sejarah dan seni budaya modern yang lahir belakangan.

Museum Ullen Sentalu

Salah satu museum yang terawat rapi, baik lokasi maupun koleksinya adalah Ullen Sentalu. Apa, Sentalu? Ullen? Seperti bukan kata-kata bahasa Jawa ya! Pertama kali dengar namanya pun, gw gak langsung nangkep maknanya. Apa, sentanu? Cuma itu kata “terdekat” yang kepikiran sama gw. Seperti nama pendekar silat, xixixi….

Sempet ilfil waktu Mang Fedy (soulmate temen gw, Vidy) bilang kalo karcis tanda masuknya Rp 50.000 per orang. Bujubuneng, mahal bener! Mantab nih, makan tabungan. Di Jakarta aja paling-paling dua rebu perak. Lima puluh rebu mah selangit! Dah gitu kita gak boleh motret-motret di dalam museum lagi. Lah, entar keluar dari museum gak ada kenang-kenangan dong. :(

Tapi biaya itu dah termasuk pemandu, imbuh Fedy. Gw dan Vidy sempet mikir-mikir antara berangkat atau gak, mengingat mahalnya tiket itu. Tapi setelah diiming-imingi koleksinya yang sangat terawat dan kalo di tempat lain kita kudu bayar lagi buat pemandu, akhirnya jadilah kami meng-oke-kan rayuan Fedy. Berangkat juga kami ke Kaliurang di mana museum itu bercokol.

Dingin, gelap, spooky

Hujan ringan menemani kami sepanjang perjalanan hingga perbukitan lereng Merapi. Tempatnya begitu sepi dan sunyi. Lain dari museum biasanya. Kalau di Jakarta atau kota-kota lain, museum itu didirikan di tengah kota, supaya strategis dijangkau dari mana-mana. Ullen Sentalu justeru dibangun pada suatu ketinggian, jauh dari keramaian, ternaungi lebat pepohonan dalam hutan.

Ditingkah rintik hujan, suasana makin dingin dan spooky (kata Vidy). Hiyyyy…., jadi inget cerita Scooby Doo yang sering nangkep hantu di tempat-tempat begini. :)

Loket di ceruk bukit

Tiket masuk museum yang Rp 25.000,-- dah termasuk dampingan pemandu cukup wajar lah ya...

Tiket masuk museum yang Rp 25.000,– dah termasuk dampingan pemandu cukup wajar lah ya…

Hal pertama yang mengesankan adalah loketnya yang unik. Dibangun berupa ceruk di dinding bukit. Mungkin dinding buatan ya, tapi seperti dinding bukit beneran yang digaruk hingga berongga. Kesannya sekilas malah kayak jendela kamar bui tempo doeloe yang gelap dan lembab.

Alhamdulillah, tiketnya tidak semahal bocoran Fedy. Buat orang dewasa, cukup Rp 25.000,– saja, bukan goban. Aha, makin semangat lah kita buat menjelajah ke dalam museum swasta ini. Eh, swasta ya? Iya. Tidak seperti museum lain yang dikelola pemerintah provinsi, museum ini dirawat oleh swasta, warga Jogja sendiri. Kalo gak salah baca di pintu masuknya, pengelolanya adalah keluarga Daniel apa gitu, tapi pas cari-cari di situs resminya kok gak ada nama ini ya.

Gak sabar kami nunggu mulainya wisata budaya ini. Rupanya di dalam sedang ada rombongan yang hampir selesai mengeksporasi. Kami tunggu rombongan itu kelar dulu, baru dapat giliran. Dalam rombongan kami, selain gw, Vidy, dan Fedy, bergabung juga dua orang mahasiswi yang menyiapkan pena dan buku catatan. Sepertinya mereka sedang mengerjakan suatu tugas dari kampusnya.

Rani, pemandu yang ramah

Pemandu kami adalah Rani, lulusan arkeologi Universitas Gajah Mada, perguruan tinggi paling top di Jogja. Orangnya ramah dan senang becanda. Membuat kami tidak sungkan tanya ini itu, sehingga pemanduan yang biasanya selesai dalam 50 menit molor lebih dari satu jam. Tapi gapapa kok, Mbak Raninya pun seneng jawabin pertanyaan-pertanyaan kita. Bahkan kita ditawari payung, berhubung rintik hujan masih saja turun.

Dan saking seringnya gw dan Vidy tanya ini itu, dua orang mahasiswi dalam rombongan kami gak sempet tanya macem-macem. Mereka tenggelam terus dalam aktivitas catat mencatatnya. Sepertinya tak mau ketinggalan sepatah kata pun dari mulut pemandu yang nampaknya sudah sangat fasih tentang koleksi museum.

Catet! :)

Ullen Sentalu adalah cahaya

Mbak Rani memulai kisahnya dengan menjelaskan makna Ullen Sentalu. Rupanya itu adalah akronim dari “Ulating blencong sejatine tataraning lumaku.” Berulang-ulang disebut, tetep aja gw gak hafal. Apalagi artinya. Waktu itu Mbak Rani menyebutkan dan menjelaskan juga maknanya dalam bahasa Indonesia. Gw agak lupa, tapi tadi intip bentar ke Wikipedia, begini katanya: “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Atau dengan kata lain - seperti Mbak Rani bilang - “cahaya yang menerangi sejarah”. Wuih, puitis yak….

Eits, lu gak usah tanya deh blencong itu apa. Hehehe, bukan banci, bok! Blencong itu lampu minyak yang digunakan pada pertunjukan wayang kulit. Nyala lampunya itulah yang menghasilkan siluet wayang di layar lebar sang dalang.

Berhubung gak boleh motret, banyak hal yang gw lupa. Padahal sepanjang pemanduan, semua yang kami temui begitu menarik. Bukan cuma sejarahnya, tapi juga karya seninya, bahkan kisah emosional dan sentimental di balik itu semua. Berbagai seni tercerita di sana. Seni musik (berupa perangkat gamelan), seni lukis (lukisan cat minyak ukuran besar tentang para sultan dan keluarganya), fotografi (dokumentasi tentang sultan dan keluarganya juga, termasuk interaksinya dengan pemerintah Belanda), seni sastra (syair salah satu puteri kerajaan), dan seni tari (terdokumentasi dalam foto dan lukisan).

Tapi untunglah ada situs web resmi Museum Ullen Sentalu dan beberapa situs web lain yang membahasnya. So beberapa ingatan terbangkit lagi, bahkan cerita mereka (sepertinya) lebih lengkap daripada yang nempel di memori gw. Tapi buat pembaca “Rumah Senja” gw cuma ceritain apa yang gw alami aja ya. :)

Gamelan Kiai Kukuh

Museum ini mengoleksi kenangan benda dan nonbenda yang terkait kerajaan Mataram Islam (yang kemudian pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta) dan sedikit arca dari sisa-sisa Mataram Hindu. Masing-masing ruang diberi nama sesuai isinya, terpampang di pintu masuk masing-masing ruangan.

Koleksi pertama adalah perangkat gamelan yang dikasih nama “Kiai Kukuh”. Alat-alat musik tradisional Jawa yang disimpan di ruang tari dan gamelan ini merupakan sumbangan seorang kerabat keraton. Lengkap. Ada saron, gender, rebab, canang, sampai gong.

Mbak Rani bilang, gamelan (atau mungkin Kiai Kukuh ini aja ya) tidak dimainkan pada sembarang waktu. “Orkestra” Jawa ini hanya dipergelarkan pada tiga peristiwa penting: (1) saat penobatan raja; (2) saat pernikahan putera-puteri raja; dan (3) saat raja wafat. Yup, mungkin karena ini gamelan “kramat”, jadi dimainkan hanya pada event-event penting menyangkut kehidupan sang raja Jawa.

Guwo Selo Giri

Kami memasuki sebuah terowongan yang dikasih nama “Guwo Selo Giri”, yang berarti gua batu gunung. Ini adalah sebuah lorong seperti gua yang dindingnya terbuat dari batu-batu gunung. Gunungnya tentu saja Merapi. Interiornya mengingatkan gw pada Gua Japang di Bukittinggi, Sumatera Barat. Tapi Guwo Selo Giri ini tidak terasa menyeramkan. Cahaya lampunya cukup terang. Udaranya bersih dan tidak lembab karena dilengkapi penyejuk ruangan. Ini nih yang bikin betah. Di lain tempat biasanya museum kagak pake AC. Di sini mah adem, gak perlu kipas-kipasan. Pengunjung bisa menikmati karya-karya lukis dan foto yang mendokumentasikan tokoh-tokoh dinasti Mataram sepanjang lorong gua.

Mbak Rani dengan semangat menceritakan siapa saja mereka dan apa peran masing-masing selama hidupnya.

Kampung Kambang

Selepas gua batu gunung, kami masuk Kampung Kambang yang berarti kampung terapung. Bagian ini mengambil konsep labirin yang berada di atas air. Mbak Rani berpesan agar kami tidak memisahkan diri dari rombongan karena (namanya juga dalam labirin) bisa tersesat dan gak balik-balik. Hahaha… Kiri kanan selasar yang kami lewati dialiri air jernih khas pegunungan. Jangan-jangan istana Nabi Sulaiman dulu kayak begini juga ya, hehehe….

Hal yang berkesan di salah satu koleksi Kampung Kambang adalah Syair Tineke. Tineke adalah nama Belanda untuk GRAj Koes Sapariyam (puteri Sunan Pakubuwana XI, Surakarta). Beliau begitu senang menulis syair dalam bahasa Belanda. Tulisannya rapi dan indah. Pelan-pelan gw baca. Betul, kata-katanya indah bersanjak. Gak perlu gw buka kamus A. Teeuw atau Ikhtiar Baru Van Hoeve, karena di bawah naskah itu tersaji terjemahannya dalam bahasa Indonesia. :)

Menari di Belanda, musiknya di Surakarta

Pada sebuah kesempatan, seorang puteri kerajaan berniat mementaskan tarian di hadapan keluarga kerajaan Belanda, di Nederland sono. Untuk maksud itu, tentu sang puteri perlu iringan musik gamelan. Perangkat gamelan berikut para niyaga (musisi)-nya kudu diboyong ke negeri kincir angin itu. Tapi tahu sendiri kan kalo Jawa dan Belanda itu jaraknya ribuan kilometer. Kalo tuh gamelan diangkut pake kapal laut, kapan nyampenya coba? Berbulan-bulan kemudian donk! Waktu itu jelas belum ada KLM atawa Garuda Indonesia yang bisa ngangkut kargo dan tiba dalam waktu beberapa jam saja. Jadi harus cari cara buat menyukseskan acara sang puteri itu. Ada ide sodara-sodara?

“Aha, teleconference!”

Ooops, sori broeder, Sang Puteri hidup di jaman rekiplik, belom ada internet. Di jaman republik aja koneksi kita masih ndut-ndutan.

“Mmm, terus, apa donk? Pegimana kalo pake CD? Kaset? Atau piringan hitam deh!”

Entahlah, mungkin ketiga media rekam itu juga belum ada pada saat mbak puteri punya niat menari di sana. Setelah putar otak (entah otaknya siapa), terbitlah sebuah ide cemerlang:

“Pake apa Mbak Rani, gelombang radio?” kejar gw.

“Tepat, betul sekali! Suara gamelan dipancarkan secara live dari Surakarta melalui gelombang radio. Gelombang itu kemudian ditangkap di lokasi pementasan sehingga terdengar oleh penari dan hadirin semua.”

Plok plok plok, betul-betul ide brilian!

Foto yang tak senyum

Beberapa cerita sedih juga sempat diceritakan oleh Mbak Rani. Konon salah satu sultan (gw gak ingat yang mana, saking banyaknya riwayat sultan yang diceritain) menikah secara poligami. Sudah biasa lah zaman dulu seorang raja mempraktikkan hal ini. Biasanya tiap-tiap sultan dan istrinya (baik permaisuri maupun selir) difoto atau dilukis. Tapi sang sultan secara bijak tidak menganggap istri keduanya sebagai selir, namun sama diperlakukan sebagai permaisuri. Jadi ada dua permaisuri gitu. Seperti biasa, jauh sebelum mangkat (wafat), sultan sudah menetapkan pangeran pewaris tahta.

Putera mahkota itu biasanya diambil dari putera tertua dari permaisuri. Namun untuk sultan yang ini kan permaisurinya ada dua. Gak mungkin dong sultan menunjuk dua putera mahkota. Maka ditetapkanlah anak dari permaisuri pertama sebagai raja berikutnya. Lantaran itu, permaisuri kedua cuma bisa nrimo tanpa berbuat apa-apa walaupun dalam hatinya tidak rela karena tidak bisa mengantarkan sang anak ke singgasana kerajaan. Ekspresi kekecewaannya tercermin dalam lukisan the second first lady yang cemberut, tidak tersenyum seperti foto-foto permaisuri pada umumnya.

Kuda kesayangan disembelih Jepang

Kisah sedih lain menimpa salah seorang puteri keraton. Beliau ini selain cantik, juga modis. Nampak modern sekali. Kelihatan dari foto-fotonya saat sekolah di Belanda. Mungkin di sanalah dia jatuh cinta pada olahraga berkuda. Sekembalinya ke tanah air, hobi itu masih ditekuni. Beliau masih suka berkuda. Sebuah lukisan bahkan mengabadikan sang puteri dan kuda kesayangannya. Nah, saat peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, salah seekor kudanya dirampas Nippon dan disembelih buat makanan para tentara. Huhuhu, bayangkan betapa sedihnya hati sang puteri. :’(

Batik Surakarta dan Batik Jogja

Museum Ullen Sentalu memiliki koleksi batik tulis asli bikinan keraton Surakarta dan Jogjakarta. Sepintas bagi kita batik di mana-mana sama saja. Tapi ternyata tidak. Solo dan Jogja punya pakem sendiri-sendiri dalam rancangannya. Misalnya warna batik Jogja lebih cerah daripada batik Solo. Lalu batik Jogja selalu ada gambar “gordo” (burung garuda) yang bentuknya mirip logo Kemendiknas yang Tut Wuri Handayani itu. Ingat kan?

Motif batik biasanya daun-daunan, bunga, peralatan pertanian (misalnya parang), atau hewan (seperti gajah, harimau, menjangan, dan sebagainya). Khusus untuk motif hewan, gambarnya dibuat tidak terlalu realistis, melainkan “dipelintir” sedikit. Itu terkait larangan memvisualkan makhluk bernyawa dalam ajaran Islam. Bentuk pokok hewannya sih masih bisa dikenali, misalnya gambar gajah tadi tapi kakinya agak gimana gitu, terus belalainya diapain gitu, dan sebagainya.

Secara umum motif batik itu cakep-cakep. Dirancang oleh desainer kerajaan bahkan kadang oleh sultan sendiri. Hasil rancangannya hanya boleh dipake keluarga kerajaan, tidak boleh sembarang rakyat jelata memakai motif batik yang dipake sultan. Misalnya saat ini (tahun 2011) Sri Sultan Hamengkubuwono X sering menggunakan kain batik bermotif parang barong, yakni parang besar. Mbak Rani mengkritik seorang artis (atau siapa gitu) di sebuah acara TV yang berani-beraninya pake batik parang barong, sesuatu yang pantang dipakai rakyat biasa. Kalau di luar wilayah Jogja sih ok-ok aja. Tapi saat di Jogja, jangan coba-coba pake batik parang barong, apalagi kalo dipake mengunjungi keraton. Bisa berabe urusannya. Nanti kalo Sri Sultan sudah tidak menggunakan parang barong, baru deh kita-kita boleh mengenakannya. Oke? :)

Dewa Ganesha menyedot otak

Dewa Ganesha yang tampil di museum ini merupakan replika salah satu arca peninggalan Mataram Hindu. Ia adalah simbol ilmu pengetahuan. Wujudnya berupa kepala gajah berbadan manusia dengan empat tangan. Namun ada perbedaan antara Ganesha versi Indonesia dan India. Di Indonesia, belalai sang Dewa nampak sedang menjumput sesuatu di sebuah cawan yang dipegangnya. Sementara versi India lebih “kejam”. Dewa yang dijadikan simbol Institut Teknologi Bandung itu digambarkan sedang menyedot otak dari sebuah tengkorak manusia. Maksudnya tentu sedang menyerap kecerdasan dan pengetahuan dari dalam otak itu ya. Iiiiyyy, sereeemmm….

Tujuh rempah awet muda

Minum ramuan awet muda

Minum ramuan awet muda

Seperti gw bilang tadi, kita gak boleh ambil gambar selama dalam museum. Baru boleh foto-foto kalo dah sampe sebuah ruang istirahat di tengah perjalanan. Di ruang remang-remang itu tersedia beberapa tempat duduk dari kayu dan lemari berisi plakat kenang-kenangan. Sambil menunggu sesi kedua penjelajahan, kami disuguhi ramuan 7 rempah yang konon bisa bikin awet muda. Rasanya mirip banget sama minuman penawar pahit di jamu-jamu gendong: manis seger. Mungkin resepnya sama. Mbak Rani menantang kami untuk menebak apa saja 7 rempah yang digunakan untuk ramuan itu. Saat gw sebut “jahe, kayu manis, gula…”, Mbak Rani senyum-senyum aja. Rahasia jabatan ‘kali ya, hahahaha…. :D

Penjelajahan berakhir di sebuah galeri. Di sana tersedia berbagai macam cindera mata. Semua bermotif tradisional, terutama batik, berpadu dengan desain modern kontemporer. Mulai dari batik kain, baju batik, tas cantik, dan beragam souvenir lainnya. Kami cuma lihat-lihat aja, gak tahan sama harganya, hehehe…. Tapi mbak-mbak pramuniaganya ramah-ramah kok. Mereka tetap bilang makasih walaupun kita gak beli apa-apa, hahahaha….

Mbok, minta maem, mbok! - Patung ibu dan anak di taman Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta.

Mbok, minta maem, mbok! - Patung ibu dan anak di taman Museum Ullen Sentalu, Yogyakarta.

Tak lupa kami ucap terima kasih pada pemandu yang sangat ramah dan pandai bercerita itu. Tidak sempat kami berfoto bersama karena ia sudah ditunggu rombongan berikutnya. Makasih ya Mbak Rani. Maaf kita banyak tanya, jadinya molor deh, lebih dari satu jam menemani kami di museum yang sangat mengesankan ini. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya….

Foto oleh: Suryadi van Batavia, Rakhman Sapta Ferdinansyah, dan Vidya Keumalasari.

[SvB]

Mancing ikan dan pisang kepang

Mangrove Fishing, tempat mancing yang asik dan gak jauh dari Surabaya.

Mangrove Fishing, tempat mancing yang asik dan gak jauh dari Surabaya.

Gw masih pengen cerita tentang serunya ketemu temen-temen di Surabaya. Temen-temen yang sama waktu 2010 lalu ke Gunung Bromo. Seneng banget ya jumpa temen-temen yang asik. Kali ini (November 2011) kita rame-rame mancing bareng. Makannya juga bareng. Gak perlu beranjak jauh, masih di kota Pahlawan juga. Seperempat jam dari Rungkut ada tempat mancing yang lumayan asik, Mangrove Fishing.

Yang mujur dan yang sabar

Wani dan salah satu hasil tangkapannya. Percaya gak lu kalo dia total dapet 8 ekor ikan gede-gede!

Wani dan salah satu hasil tangkapannya. Percaya gak lu kalo dia total dapet 8 ekor ikan gede-gede!

Buat gw dan Wani, ini adalah debut alias baru pertama kalinya mancing. Kami berdua memang tidak hobi mancing. Tapi tidak akan nolak kalo diajak. Pasti asik. Refreshing sekalian. Berhubung masih pemula, jadi jangan tanya kiat atau trik mancing sama gw dan Wani ya. Cara masang dan ngelempar umpan aja kudu diajarin. Tapi salut lah gw ma Wani. Ternyata Dewi Keberuntungan lagi memeluknya. Baru beberapa menit nongkrong, dah nyengir dapet ikan. Dapet lagi dan dapet lagi.

Sementara gw udah satu jam gak dapet ikan satu ekor pun. Padahal didampingi mentor khusus, Dodi Hermawan, yang membimbing langkah demi langkah. Mulai dari masang pelet (umpan ikan), melempar kail ke tengah kolam, hingga mengamati pelampung digoyang ikan. Termasuk bagaimana menarik benang pancing dan adu tenaga dengan makhluk air itu (kalo dapet), hehehe…. :p

Huah, bener juga kata orang, mancing itu emang kudu sabar. Hampir satu satu jam nongkrong, belum dapet apa-apa. Jangankan ikan, sendal jepit bekas juga gak dapet. Sementara Wani dan Anto di sana terus menerus nambah koleksinya, mungkin dah berpuluh kali narik joran dan bertarung dengan ikan yang menggelepar-gelepar. Joni van Lamongan malah udah bosen teriak “Mana suaranyaaaa!!!!” karena dah terlalu banyak dapet patin. Melengkapi kegembiraan yang terlimpah setelah beberapa hari sebelumnya begitu bahagia atas kelahiran anaknya yang kedua, laki-laki.

Pisang kepang pelipur lara

Ini dia pisang goreng pelipur lara

Ini dia pisang goreng pelipur lara

Akhirnya ada juga pelipur lara, penghilang bete: Lidya datang membawa pisang goreng. “Ini Pak pisang gorengnya, jangan malu-malu!” Tengok sebentar ke dalam bungkusan, comot satu. “Ih, apa nih, pisang goreng? Pisang goreng kok gini?”

Iya, bentuknya aneh. Gak panjang dan bengkok kayak pisang goreng kebanyakan. Ini mirip-mirip rambut kriwil, keriting-keriting gitu. Ternyata itu pisang goreng a la Manado. Maklum aja, Lidya tu walaupun lidahnya dah Suroboyo banget, tapi asalnya dari Minahasa sana. Konon lulus kuliah dari De La Salle University baru hijrah ke Surabaya.

Belakangan gw tau kalo di Blok M Jakarta, juga ada warung Manado yang jual pisgor macam tu. Kata temen sini sih tu namanya pisang kepang, lantaran bentuknya mirip rambut Elle Fanning, artis Hollywood.

Sambil ngunyah, sempet mikir, kayaknya tu pisang mula-mula dipotong dadu, rame-rame diceburin adonan tepung, baru dicemplungin ke minyak panas. Wah, lucu deh bentuk akhirnya. Tuh lihat fotonya! Gw yakin banyak dari lu yang blom pernah liat pisang goreng kayak gini.

Setelah gw comot satu, tu pisang langsung beredar ke gerombolan si Berat, Yuan dan kawan-kawan. Mereka, konon gerombolan penyapu makanan terbaik di dunia. Keruan aja, buah dari suku Musaceae itu ludes, lenyap, berpindah dari bungkusan ke perut mereka-mereka itu. Jiahhhh, nyesel gw kenapa tadi gak ambil dua atawa tiga. :’(

Selesai bagi-bagi pisang goreng, Lidya ikut mancing bersama para gentlemen.

Selesai bagi-bagi pisang goreng, Lidya ikut mancing bersama para gentlemen.

Selesai ngebagiin pisang kepang, Lidya gabung dengan Pak Rahmad, Pak Ias, Erman, dan gentleman-gentleman lain megang joran pancing. Yeah, dia satu-satunya lady yang betah megang joran ketimbang lady-lady lainnya yang mengikuti kodrat kewanitaan: ngurusin pemanggang ikan, api, dan bumbu, hehehe… :p

Ikan mini berbahaya

Rupanya pasokan pisgor itu lumayan mendatangkan kemujuran. Selang beberapa menit, seekor ikan mencaplok umpan gw. Yah, kecil! Mujair atau apa, gw gak begitu paham. Tapi lumayan lah. Langsung masukin ke jala penampungan. Tambah semangat deh menyematkan pelet ke rangkaian mata pancing, yang isinya tiga mata kail.

Tapi keberuntungan tak berjalan mulus. Sampe bosen, gak dapet mangsa kedua. Atas saran mentor, lempar kail ke kolam sebelah. Di sana lebih menggiurkan. Isinya bandeng, bukan patin atau mujair. Tapi emang gak bertangan dingin, gak ada seekor pun bandeng yang nyamber umpan gw. Mungkin mereka lebih suka jadi presto di Semarang ketimbang jadi bandeng bakar di Surabaya. Terpaksa lah berpaling lagi ke kolam patin. :p

Hap! Mujur, dapet lagi satu. Jiakakakakkkk, anak ikan sejempol kaki! Langsung dijemput mentor gw, Dodi. Dia amati rupanya tu ikan punya patil (taji) yang berbahaya. Tajem! Langsung dengan kejam ia injak tu ikan mini. Ganas, bro. Nginjaknya kayak serdadu nginjek tentara musuh. Kraaakkk!!! Koit seketika. Dilarung lagi ke kolam buat jadi tumbal atau makanan ikan lain. :)

Mancing dan bakar di tempat

Para pembakar ikan siap menyulap dan menghidangkan.

Para pembakar ikan siap menyulap dan menghidangkan.

Ibu-ibu muda mulai menyalakan api dan menyiapkan bumbu ikan bakar. Di sana ada Mbak Ayu, Wulan, dan Fitri. Wah, pasti enak ini. Semua kerja sama menyukseskan acara. Yang laki-laki nangkep ikan (Lidya kita anggap laki-laki aja), cewek-ceweknya ngurusin dapur, eh alat panggang maksudnya. :) Sementara Yuan, Pak Ias, Pak Rahmad, dan semua yang merasa punya tenaga gede mbantu-bantu juga bikin api makin besar dan cukup buat menyulap ikan mentah jadi siap santap.

Titip goreng dan pepes

Matahari mulai turun, api sudah besar. Ikan-ikan sudah ditewaskan dan dibersihkan. Dijepit pemanggang, dan nyessss…. mulai terbit liur kita-kita ngeliat kulit-kulit ikan itu mulai mengelupas, mengeluarkan aroma khas ikan bakar. Satu per satu mateng bergiliran. Beberapa pemancing masih nerusin ritualnya, sementara gw dah mengundurkan diri sejak dapet ikan mini tadi.

Akhirnya dengan gaya waiter profesional, Fitri (yang mungil kayak anak SMP itu) menyodorkan baki berisi 3 ekor patin. Wah, nelen ludah gw lihat patin item putih angus-angus gitu. Kayaknya gak kalah sedap dari Babe H. Lili atawa Muara Karang. (Padahal gw blom pernah makan di dua tempat itu). Gw cubit pelan-pelan daging putih panas yang masih mengepul asap. Sedap! Pasti lebih sedap lagi kalo tadi ini hasil pancingan gw.

“Ambil semua, Pak!”

“Haaaaa, ambil semua? Yaudah, sini!”

Nampan hitam langsung gw samber. Hari ini surga ikan buat gw. Seluruh dunia gak bakal gw bagi ini ikan. Nyam nyam nyam!

“Udah Pak, gak usah dimakan semua kalau gak enak.”

“Huuu, enak kok. Sayang kalo gak diabisin.”

Dengan sabar para lady menunggu nampannya kembali. Dan gw kalo bertekad ngabisin ikan, jangan diganggu. Lu harus sabar nunggu tu ikan tinggal tulang diliputi kulit angus. Hehehe…. Gak sempet lagi merhatiin ekspresi temen-temen yang lain karena gw sibuk sama urusan sendiri, menaklukkan tiga ekor patin ini.

***

Nyamuk-nyamuk mulai mengganggu. Mangrove Fishing disergap malam. Gelap di mana-mana. Kami segera berkemas. Sisa ikan yang belum dibakar akan dititipkan ke pedagang pecel lele buat digoreng. Rencananya buat makan siang esok hari.

Maghrib itu rombongan terbelah dua. Satu rombongan balik kantor. Gw ikut rombongan kedua, menuju Araya, sebuah gedung olahraga di bilangan Galaxi Permai. Energi dari pisang kepang dan tiga ekor ikan tadi cukup lah jadi bekal. Sebab di sana kami akan habis-habisan, mengucurkan keringat dengan raket badminton. Setelah itu, pasti laper lagi. Dan seperti biasa, kulineran lagi, hahaha…. :D

Foto oleh: Suryadi van Batavia dan Elvira Lidya Supit.

[SvB]

Kaos Sawoong dan Soerabaia Tempo Doeloe

Kaos Sawoong

Kaos Sawoong

Saat gw, Wani, dan Rifqi nginep di Surabaya, Dewiq nitip cariin kaos-kaos lucu macam Dagadu Djokdja. Wah, gw blom tau kalo arek Suroboyo, bisa bikin kaos lucu, mengingat mereka tu (katanya) kalo becanda aja ngomongnya kasar. Lha kalo bikin kaos, pastilah gak jauh-jauh amat dari becandaan model mereka itu.

Makan lontong balap dulu

Dapat info dari Dany dan Vidy kalo ada sebuah toko yang jual kaos-kaos lucu di Royal Plaza, Jalan Ahmad Yani. Sayangnya mereka lupa nama tokonya, bahkan letaknya pun gak yakin lantai berapa, tapi kayaknya sih lantai dua. So, setelah kenyang makan lontong balap Pak Gendut, mulailah kami bertiga berburu kaos lelucon. Terkantuk-kantuk, gw seret dua auditor ini menyusuri Royal Plaza. Bertekad gak akan pulang sebelum kelar menyisir lantai dua.

Akhirnya Dany kasih sedikit petunjuk, katanya kalo dari pintu masuk, naik satu lantai, belok kiri. Kita ikutin petunjuknya. Gak ketemu juga. Yang ada malah deretan kios busana muslimah gak abis-abisnya.

Di ujung putus asa, mata Wani menangkap sebuah kios bertajuk “Sawoong”. Tapi kayaknya bukan itu deh tokonya. Soalnya tempo hari Mpok Mine pernah nunjukin gambar mereka (Mpok Mine, Dany, dan Vidy) berpose di depan toko penjual kaos-kaos lucu itu.

Tapi gpp lah, daripada gak dapet, kita coba aja eksplorasi dulu toko di pojok itu. Koleksinya ternyata kaos-kaos bertema Soerabaia Tempo Doeloe. Lucu juga sih, kalo lu punya selera sejarah lumayan bagus. Di dinding tokonya aja terpapar advertentie (poster iklan) jadul yang pake bahasa belanda campur melayu pasaran.

Pernah nemu Sawoong di Museum Sampoerna

Bros Sawoong, Soerabaia Tempo Doeloe

Bros Sawoong, Soerabaia Tempo Doeloe

Ah, gw baru inget. Ternyata ini Sawoong yang sama dengan yang di Museum Sampoerna. Tapi di Museum Sampoerna kayaknya gak jual kaos, cuman jual bros bertema sama, Surabaya jaman dulu. Di Royal Plaza ini, Sawoong jual semua. Kaos, bros, dan gantungan kunci. Beberapa merchandise lain juga ada, misalnya mug.

Dah dapet tiga keping kaos, baru deh bisa bernapas lega. Berarti selesai sudah perburuan hari ini, walaupun tidak 100% persis seperti yang dipengenin Dewiq. Tapi kaos-kaos yang kami dapatkan sudah sesuai kok dengan selera Dewiq, yang menggemari sejarah dan pernak pernik djadoel macem ini.

Sur, gua inget nama tokonya!

Dewiq make kaos Pemberita Soerabaia bikinan Sawoong, Surabaya

Dewiq make kaos Pewarta Soerabaia bikinan Sawoong, Surabaya

Setibanya di hotel, Dany nges-em-es, “Sur, gua baru inget, nama tokonya Tuljaenak. Nih gua bongkar lemari, kaos yang dulu gua beli belom gua buka bungkusannya!”

Alamaaak, telat, oom. Ini kita udah beli kaos tiga biji, tapi di Sawoong. Kita gak nemu Tuljaenak!

Yaudah, ke Tuljaenaknya kapan-kapan aja ya, kalo ke Surabaya lagi, xixixi…. :D

Foto oleh: Suryadi van Batavia dan Fahmi Basya (atau mungkin Bambang Setyoko).

[SvB]

Terpana Ramayana

Cerita Ramayana dan Mahabharata sudah begitu kondang di Indonesia, terutama di tanah Jawa. Dua kisah kepahlawanan asal India ini biasanya disajikan dalam bentuk wayang kulit atau wayang orang. Gw gak begitu suka nonton wayang lama-lama, apalagi kalo pake bahasa Jawa kromo (halus) dan dipentaskan semalam suntuk. Bukan apa-apa. Gw cuman ngerti dikit-dikit bahasa ngoko (kasar) yang terserap selama kuliah dan kerja.

Untung ada RA Kosasih dengan komik wayangnya yang akhirnya menggugah gw buat mencintai wayang. Beliau lah yang dulu bikin gw betah duduk berjam-jam baca komiknya, sehabis makan siang pulang sekolah. Ah, gw lupa waktu itu minjem komiknya ama siapa. Yang pasti salah seorang temen SMP.

Tetapiiii….., sendratari Ramayani adalah pengecualian. Justru ini harus gw tonton, walaupun masih ngebayangin bakal bete kayak nonton wayang orang yang bertaburan bahasa Jawa dan gerakan-gerakan lamban yang gak perlu (ini cuman apriori, karena sebetulnya gw sendiri belom pernah nonton wayang orang, wkwkwkwk….)

Gak banyak omong

Dan terbukti prasangka gw buyar saat November 2011 lalu bersama Vidy dan Fedy menyaksikan sendiri seni drama dan tari (sendratari) yang tersohor ini. Sungguh minim dialog, sedikit bicara, hanya sesekali bila perlu. Selebihnya gerakan-gerakan cantik, tarian-tarian indah, dan adegan-adegan yang mudah dipahami. Mudah dipahami tentunya setelah dibantu sinopsis tertulis dan pengantar cerita dari mbak narator.

Dari pengantar cerita narator, kalo gak salah tangkap (karena kadang tak jelas terdengar), sepertinya sendratari ini dilakoni oleh mahasiswa mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta. Pantes aja kelihatan muda-muda. Yang kelihatan bukan mahasiswa (lebih tua dari rata-rata pemeran lain) cuma Rama dan Rahwana. Sepertinya khusus yang dua ini diperankan oleh aktor senior, bukan mahasiswa. Selebihnya, mahasiswa mahasiswi yang nampak penuh dedikasi pada seni. Lincah-lincah dan cakep-cakep. ;)

Tiket lumayan mahal

Ramayana Ballet Ticket

Tiket Sendratari Ramayana

Tiket masuk pertunjukan Sendratari Ramayana dijual dalam dua kelas, tribun samping (kiri kanan) yang ekonomis (Rp 75.000) dan tribun khusus (depan) yang rada mahal (Rp 175.000). Tribun samping biasanya diisi anak-anak sekolah yang (kayaknya) lagi widyawisata. Sementara tribun khusus diisi para wisatawan domestik dan mancanegara yang punya duit lebih dari sekadar uang jajan, hahaha… :D

Eh iya, sebenernya sejak dulu gw ngebayangin sendratari Ramayana ini dipertunjukkan di pelataran Candi Prambanan di bawah siraman cahaya bulan. Ternyata tidak selalu. Menurut seseorang yang kami jumpai di kompleks candi, sendratari selama 6 bulan dipentaskan di bawah langit terbuka, selebihnya dalam ruangan. Mungkin menyesuaikan dengan musim hujan dan kemarau. Bulan November itu giliran pertunjukan dalam ruang.

Gw gak mau cerita

Di sini gw gak mau cerita soal alur kisah atawa jalan cerita Ramayana. Gw cuma mencuplik hal-hal yang menarik perhatian gw sepanjang pertunjukan itu. Kalo gw ceritain ceritanya, uh malah jadi spoiler deh. Kalo pengen tau cerita utuhnya, ya dateng lah ke sono. Bayar tiketnya, ambil sinopsisnya, tonton pertunjukannya. Menghidupkan pariwisata, mengebulkan dapur para pengelola, pengrawit, sutradara, penari, dan semua orang yang terlibat dalam sendaratari ini.

Lihat kereta kudanya, teatrikal sekali, kudanya pake kuda lumping dan rodanya pake payung berhias.

Lihat kereta kudanya, teatrikal sekali. Kudanya pake kuda lumping dan rodanya pake payung berhias.

Kijang yang lincah

Satu tokoh yang sangat menarik perhatian gw adalah kijang emas yang menjadi buruan Rama. Sebenarnya itu adalah jelmaan siluman jahat suruhan Rahwana. Diminta oleh penguasa Alengka Diraja itu sebagai pengalih perhatian agar Rama menjauh dari Shinta, sehingga Shinta lepas dari kawalan Sang Ksatria. Kijang itu diperankan oleh seorang gadis mungil. Manis sekali. Gerakannya begitu lincah, apalagi saat gerakan menyamping. Terpana ‘ku dibuatnya. Mirip banget dengan kijang yang menari-nari menggoda pemburu. Weits, mirip? Kayak pernah lihat gerakan kijang aja, hahaha…. Yah, setidaknya gw jadi inget logo Intirub, yang logonya berupa kijang lagi lompat, hehehe… ;)

Gigi copot dicomot lagi

Salah satu pemeran anak buah Rahwana nampak begitu atraktif. Gerakannya dinamis, tak pernah henti. Lompat sana lompat sini. Jungkir sana jungkir sini. Wuih, cakep dah. Saking lincahnya, gigi taringnya copot. Plukkk! Xixixi…. Mungkin penonton lain terkekeh-kekeh juga kayak gw. Tapi dasar aktor, bisa aja dia ngepasin gerakan, hingga dalam sebuah kesempatan tu gigi taring yang tergeletak di lantai bisa dia comot dan pasang lagi di mulutnya. Top dah, keren, pas banget cari momennya.

Kopi, bonus buat tribun khusus

Satu jam berlalu. Balet Jawa ini direhatkan sekitar sepuluh menit buat istirahatkan mata dan pantat para penonton. Setengah penonton hanya istirahat di tempat duduknya, sementara separuh lainnya beranjak ke luar gedung. Sambil nepuk-nepuk pantat yang mulai tepos atawa ngucek-ngucek mata yang mulai burem.

Penonton tribun khusus dapet bonus kopi atawa minuman ringan sebagai selingan, yang bisa diminta ke kafe dekat situ sambil menyerahkan potongan tiket. Sementara serombongan penonton yang berasal dari sebuah SMK yang lagi study tour asik becanda-canda dan foto-foto bersama teman-temannya. Pasti deh sebentar kemudian foto-foto mereka terunggah di facebook disertai status yang lucu-lucu.

Wisatawan dari India serius memperhatikan kostum Rama Shinta versi Indonesia dan India di etalase depan. Memang agak beda. Yang Indonesia berkostum a la Jawa, Shinta yang India bertutup kepala lancip seperti di video klip Black or White Michael Jackson. ABG-ABG lebih suka foto sambil meluk patung Hanoman super gede yang didesain berpose sefotogenik mungkin. :)

Bule ngebahas sambil lompat-lompat

Tak disangka, ternyata wisatawan mancanegara juga suka dengan gerakan-gerakan dinamis dan lincah khas sendratari ini. Pasti karena gerakan-gerakan itu tidak mereka temui di pertunjukan balet. Sendratari Ramayana yang diinggriskan jadi Ramayana Ballet, tidak secuil pun menampilkan balerina berkostum merah jambu, bergerak muter-muter sambil jinjit-jinjit gitu, hehehehe… :p

Bule-bule wisatawan itu bukan cuma ngebahas, tapi coba memeragakan gerakan di depan kawannya. Gerakan angkat kaki kiri kanan bergantian, jalan cepat tanpa tersandung kain. Bahkan gerakan kijang yang sempat bikin gw terpana itu pun ditirukannya. Ah, dasar bule. Hebat deh. Begitu besar apresiasinya pada seni.

Foto bersama di akhir acara

Selesai pertunjukan, narator mempersilakan penonton untuk berfoto bersama balerina, eh pelakon sendratari. Gw dan Vidy pun sumringah turun dari tribun menuju panggung di mana semua penari berkumpul. Sementara Fedy sudah sejak turun minum meringkuk di mobil, kelelahan. Gw sibak kerumunan, mencari-cari kijang pencuri hati. Tengok sana, tengok sini, tak nampak.

“Mbak, kijangnya mana? Kok nggak ada!”

“Wah, maaf, Mas. Kijangnya dah pulang, rumahnya jauh…,” kata tante narator.

Foto bersama para pelakon sendratari Ramayana

Foto bersama para pelakon sendratari Ramayana

Hikz, sedih deh gw gak dapet kijang emas. Karena buat gw, primadona malam itu bukanlah Shinta. Aktor pemenang Oscarnya bukan Rama. Yang paling bikin gw kangen justru gadis mungil pemeran kijang emas jelmaan anak buah Rahwana. Sayangnya dia sudah pulang duluan sebelum pentas usai.

Yah, terpaksa deh akhirnya foto bareng anak buah Rahwana lain yang serem-serem. Untung gak dicokot, hiyyy…. Eh, tapi di belakang itu ada dua gadis pemanah yang cantik-cantik juga kok, hehehe…. :)

Gw dan Vidy bertekad balik lagi nanti, nonton yang versi outdoor. Biar lebih terasa indahnya, karena pertunjukan luar ruang itu akan berlatar belakang Prambanan yang nampak indah sekali di waktu malam.

“Ramayana, aku ‘kan kembali. Bukan melihat Rama, menatap Shinta, apalagi melototin Rahwana. Tapi buat (sekali lagi) menyaksikan kijang mungil melompat-lompat lincah dan akhirnya mati terpanah.”

Vidy, ingetin ya, nanti minta fotonya pas rehat aja, sebelom kijangnya pulang. Semoga nanti pemerannya masih gadis yang sama. :)

I shall return!

Foto oleh: Suryadi van Batavia, Vidya Keumalasari, dan Rakhman Sapta Ferdinansyah.

Menghirup belerang Bromo

Gunung Merapi di Yogyakarta baru saja meletup, menghembus, dan meletus. Menyebar abu, awan, dan lahar panas. Sembilan belas gunung berapi lainnya, termasuk Bromo di Jawa Timur, ikut menggeliat dan naik status jadi Waspada.

Nah, mumpung tuh Bromo masih cantik, gw mo cerita-cerita waktu bersama teman-teman dengan riang gembira menikmati indahnya si gunung api. Ini lanjutan cerita sebelumnya, menatap bromo dari jauh.

***

Sepuas memandang Bromo dari jauh (walaupun gagal bertemu mentari terbit), kami berlarian menyongsong Hardtop yang setia menunggu.

Bersiap naik jip ke Bromo

Bersiap naik jip ke Bromo

Gerobak tangguh bikinan Nippon itu akan mengantar kami lebih dekat ke Batok dan Bromo, mengobrak-abrik kami di udara pagi yang sedikit demi sedikit mengeluarkan terang dari gelap.

Perjalanan dari atas ke bawah memakan waktu lebih singkat. Si Hardtop berkumpul bersama teman-temannya di padang rumput pasir (atau padang pasir berumput) tak jauh dari kaki Bromo. Gw mampir sebentar ke toilet dan beli sebotol air minum. Read more