Indonesia kaya akan budaya. Dan soal budaya, Jogja adalah gudangnya. Gw sebut gudang, bukan berarti teronggok dan dianggurin begitu aja. Budaya di daerah istimewa itu masih bisa dinikmati hingga kini. Lihat saja keraton atau istana kesultanannya, batiknya, gudegnya, keramahannya, dan banyak lagi yang lainnya.
Buat peminat riwayat nagari Ngayogjakarta Hadiningrat, ada banyak saksi sejarah dan monumen di ibukota perjuangan ini. Benteng Vredeburg, Tugu Pal Putih, Monumen Jogja Kembali, Museum Sonobudoyo, Museum Affandi, huahhh banyak banget. Terlalu banyak untuk disebutkan. Tak hanya mengabadikan kejayaan pra kemerdekaan, tapi juga sejarah dan seni budaya modern yang lahir belakangan.
Museum Ullen Sentalu
Salah satu museum yang terawat rapi, baik lokasi maupun koleksinya adalah Ullen Sentalu. Apa, Sentalu? Ullen? Seperti bukan kata-kata bahasa Jawa ya! Pertama kali dengar namanya pun, gw gak langsung nangkep maknanya. Apa, sentanu? Cuma itu kata “terdekat” yang kepikiran sama gw. Seperti nama pendekar silat, xixixi….
Sempet ilfil waktu Mang Fedy (soulmate temen gw, Vidy) bilang kalo karcis tanda masuknya Rp 50.000 per orang. Bujubuneng, mahal bener! Mantab nih, makan tabungan. Di Jakarta aja paling-paling dua rebu perak. Lima puluh rebu mah selangit! Dah gitu kita gak boleh motret-motret di dalam museum lagi. Lah, entar keluar dari museum gak ada kenang-kenangan dong.
Tapi biaya itu dah termasuk pemandu, imbuh Fedy. Gw dan Vidy sempet mikir-mikir antara berangkat atau gak, mengingat mahalnya tiket itu. Tapi setelah diiming-imingi koleksinya yang sangat terawat dan kalo di tempat lain kita kudu bayar lagi buat pemandu, akhirnya jadilah kami meng-oke-kan rayuan Fedy. Berangkat juga kami ke Kaliurang di mana museum itu bercokol.
Dingin, gelap, spooky
Hujan ringan menemani kami sepanjang perjalanan hingga perbukitan lereng Merapi. Tempatnya begitu sepi dan sunyi. Lain dari museum biasanya. Kalau di Jakarta atau kota-kota lain, museum itu didirikan di tengah kota, supaya strategis dijangkau dari mana-mana. Ullen Sentalu justeru dibangun pada suatu ketinggian, jauh dari keramaian, ternaungi lebat pepohonan dalam hutan.
Ditingkah rintik hujan, suasana makin dingin dan spooky (kata Vidy). Hiyyyy…., jadi inget cerita Scooby Doo yang sering nangkep hantu di tempat-tempat begini.
Loket di ceruk bukit
Hal pertama yang mengesankan adalah loketnya yang unik. Dibangun berupa ceruk di dinding bukit. Mungkin dinding buatan ya, tapi seperti dinding bukit beneran yang digaruk hingga berongga. Kesannya sekilas malah kayak jendela kamar bui tempo doeloe yang gelap dan lembab.
Alhamdulillah, tiketnya tidak semahal bocoran Fedy. Buat orang dewasa, cukup Rp 25.000,– saja, bukan goban. Aha, makin semangat lah kita buat menjelajah ke dalam museum swasta ini. Eh, swasta ya? Iya. Tidak seperti museum lain yang dikelola pemerintah provinsi, museum ini dirawat oleh swasta, warga Jogja sendiri. Kalo gak salah baca di pintu masuknya, pengelolanya adalah keluarga Daniel apa gitu, tapi pas cari-cari di situs resminya kok gak ada nama ini ya.
Gak sabar kami nunggu mulainya wisata budaya ini. Rupanya di dalam sedang ada rombongan yang hampir selesai mengeksporasi. Kami tunggu rombongan itu kelar dulu, baru dapat giliran. Dalam rombongan kami, selain gw, Vidy, dan Fedy, bergabung juga dua orang mahasiswi yang menyiapkan pena dan buku catatan. Sepertinya mereka sedang mengerjakan suatu tugas dari kampusnya.
Rani, pemandu yang ramah
Pemandu kami adalah Rani, lulusan arkeologi Universitas Gajah Mada, perguruan tinggi paling top di Jogja. Orangnya ramah dan senang becanda. Membuat kami tidak sungkan tanya ini itu, sehingga pemanduan yang biasanya selesai dalam 50 menit molor lebih dari satu jam. Tapi gapapa kok, Mbak Raninya pun seneng jawabin pertanyaan-pertanyaan kita. Bahkan kita ditawari payung, berhubung rintik hujan masih saja turun.
Dan saking seringnya gw dan Vidy tanya ini itu, dua orang mahasiswi dalam rombongan kami gak sempet tanya macem-macem. Mereka tenggelam terus dalam aktivitas catat mencatatnya. Sepertinya tak mau ketinggalan sepatah kata pun dari mulut pemandu yang nampaknya sudah sangat fasih tentang koleksi museum.
Catet!
Ullen Sentalu adalah cahaya
Mbak Rani memulai kisahnya dengan menjelaskan makna Ullen Sentalu. Rupanya itu adalah akronim dari “Ulating blencong sejatine tataraning lumaku.” Berulang-ulang disebut, tetep aja gw gak hafal. Apalagi artinya. Waktu itu Mbak Rani menyebutkan dan menjelaskan juga maknanya dalam bahasa Indonesia. Gw agak lupa, tapi tadi intip bentar ke Wikipedia, begini katanya: “Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan”. Atau dengan kata lain - seperti Mbak Rani bilang - “cahaya yang menerangi sejarah”. Wuih, puitis yak….
Eits, lu gak usah tanya deh blencong itu apa. Hehehe, bukan banci, bok! Blencong itu lampu minyak yang digunakan pada pertunjukan wayang kulit. Nyala lampunya itulah yang menghasilkan siluet wayang di layar lebar sang dalang.
Berhubung gak boleh motret, banyak hal yang gw lupa. Padahal sepanjang pemanduan, semua yang kami temui begitu menarik. Bukan cuma sejarahnya, tapi juga karya seninya, bahkan kisah emosional dan sentimental di balik itu semua. Berbagai seni tercerita di sana. Seni musik (berupa perangkat gamelan), seni lukis (lukisan cat minyak ukuran besar tentang para sultan dan keluarganya), fotografi (dokumentasi tentang sultan dan keluarganya juga, termasuk interaksinya dengan pemerintah Belanda), seni sastra (syair salah satu puteri kerajaan), dan seni tari (terdokumentasi dalam foto dan lukisan).
Tapi untunglah ada situs web resmi Museum Ullen Sentalu dan beberapa situs web lain yang membahasnya. So beberapa ingatan terbangkit lagi, bahkan cerita mereka (sepertinya) lebih lengkap daripada yang nempel di memori gw. Tapi buat pembaca “Rumah Senja” gw cuma ceritain apa yang gw alami aja ya.
Gamelan Kiai Kukuh
Museum ini mengoleksi kenangan benda dan nonbenda yang terkait kerajaan Mataram Islam (yang kemudian pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta) dan sedikit arca dari sisa-sisa Mataram Hindu. Masing-masing ruang diberi nama sesuai isinya, terpampang di pintu masuk masing-masing ruangan.
Koleksi pertama adalah perangkat gamelan yang dikasih nama “Kiai Kukuh”. Alat-alat musik tradisional Jawa yang disimpan di ruang tari dan gamelan ini merupakan sumbangan seorang kerabat keraton. Lengkap. Ada saron, gender, rebab, canang, sampai gong.
Mbak Rani bilang, gamelan (atau mungkin Kiai Kukuh ini aja ya) tidak dimainkan pada sembarang waktu. “Orkestra” Jawa ini hanya dipergelarkan pada tiga peristiwa penting: (1) saat penobatan raja; (2) saat pernikahan putera-puteri raja; dan (3) saat raja wafat. Yup, mungkin karena ini gamelan “kramat”, jadi dimainkan hanya pada event-event penting menyangkut kehidupan sang raja Jawa.
Guwo Selo Giri
Kami memasuki sebuah terowongan yang dikasih nama “Guwo Selo Giri”, yang berarti gua batu gunung. Ini adalah sebuah lorong seperti gua yang dindingnya terbuat dari batu-batu gunung. Gunungnya tentu saja Merapi. Interiornya mengingatkan gw pada Gua Japang di Bukittinggi, Sumatera Barat. Tapi Guwo Selo Giri ini tidak terasa menyeramkan. Cahaya lampunya cukup terang. Udaranya bersih dan tidak lembab karena dilengkapi penyejuk ruangan. Ini nih yang bikin betah. Di lain tempat biasanya museum kagak pake AC. Di sini mah adem, gak perlu kipas-kipasan. Pengunjung bisa menikmati karya-karya lukis dan foto yang mendokumentasikan tokoh-tokoh dinasti Mataram sepanjang lorong gua.
Mbak Rani dengan semangat menceritakan siapa saja mereka dan apa peran masing-masing selama hidupnya.
Kampung Kambang
Selepas gua batu gunung, kami masuk Kampung Kambang yang berarti kampung terapung. Bagian ini mengambil konsep labirin yang berada di atas air. Mbak Rani berpesan agar kami tidak memisahkan diri dari rombongan karena (namanya juga dalam labirin) bisa tersesat dan gak balik-balik. Hahaha… Kiri kanan selasar yang kami lewati dialiri air jernih khas pegunungan. Jangan-jangan istana Nabi Sulaiman dulu kayak begini juga ya, hehehe….
Hal yang berkesan di salah satu koleksi Kampung Kambang adalah Syair Tineke. Tineke adalah nama Belanda untuk GRAj Koes Sapariyam (puteri Sunan Pakubuwana XI, Surakarta). Beliau begitu senang menulis syair dalam bahasa Belanda. Tulisannya rapi dan indah. Pelan-pelan gw baca. Betul, kata-katanya indah bersanjak. Gak perlu gw buka kamus A. Teeuw atau Ikhtiar Baru Van Hoeve, karena di bawah naskah itu tersaji terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Menari di Belanda, musiknya di Surakarta
Pada sebuah kesempatan, seorang puteri kerajaan berniat mementaskan tarian di hadapan keluarga kerajaan Belanda, di Nederland sono. Untuk maksud itu, tentu sang puteri perlu iringan musik gamelan. Perangkat gamelan berikut para niyaga (musisi)-nya kudu diboyong ke negeri kincir angin itu. Tapi tahu sendiri kan kalo Jawa dan Belanda itu jaraknya ribuan kilometer. Kalo tuh gamelan diangkut pake kapal laut, kapan nyampenya coba? Berbulan-bulan kemudian donk! Waktu itu jelas belum ada KLM atawa Garuda Indonesia yang bisa ngangkut kargo dan tiba dalam waktu beberapa jam saja. Jadi harus cari cara buat menyukseskan acara sang puteri itu. Ada ide sodara-sodara?
“Aha, teleconference!”
Ooops, sori broeder, Sang Puteri hidup di jaman rekiplik, belom ada internet. Di jaman republik aja koneksi kita masih ndut-ndutan.
“Mmm, terus, apa donk? Pegimana kalo pake CD? Kaset? Atau piringan hitam deh!”
Entahlah, mungkin ketiga media rekam itu juga belum ada pada saat mbak puteri punya niat menari di sana. Setelah putar otak (entah otaknya siapa), terbitlah sebuah ide cemerlang:
“Pake apa Mbak Rani, gelombang radio?” kejar gw.
“Tepat, betul sekali! Suara gamelan dipancarkan secara live dari Surakarta melalui gelombang radio. Gelombang itu kemudian ditangkap di lokasi pementasan sehingga terdengar oleh penari dan hadirin semua.”
Plok plok plok, betul-betul ide brilian!
Foto yang tak senyum
Beberapa cerita sedih juga sempat diceritakan oleh Mbak Rani. Konon salah satu sultan (gw gak ingat yang mana, saking banyaknya riwayat sultan yang diceritain) menikah secara poligami. Sudah biasa lah zaman dulu seorang raja mempraktikkan hal ini. Biasanya tiap-tiap sultan dan istrinya (baik permaisuri maupun selir) difoto atau dilukis. Tapi sang sultan secara bijak tidak menganggap istri keduanya sebagai selir, namun sama diperlakukan sebagai permaisuri. Jadi ada dua permaisuri gitu. Seperti biasa, jauh sebelum mangkat (wafat), sultan sudah menetapkan pangeran pewaris tahta.
Putera mahkota itu biasanya diambil dari putera tertua dari permaisuri. Namun untuk sultan yang ini kan permaisurinya ada dua. Gak mungkin dong sultan menunjuk dua putera mahkota. Maka ditetapkanlah anak dari permaisuri pertama sebagai raja berikutnya. Lantaran itu, permaisuri kedua cuma bisa nrimo tanpa berbuat apa-apa walaupun dalam hatinya tidak rela karena tidak bisa mengantarkan sang anak ke singgasana kerajaan. Ekspresi kekecewaannya tercermin dalam lukisan the second first lady yang cemberut, tidak tersenyum seperti foto-foto permaisuri pada umumnya.
Kuda kesayangan disembelih Jepang
Kisah sedih lain menimpa salah seorang puteri keraton. Beliau ini selain cantik, juga modis. Nampak modern sekali. Kelihatan dari foto-fotonya saat sekolah di Belanda. Mungkin di sanalah dia jatuh cinta pada olahraga berkuda. Sekembalinya ke tanah air, hobi itu masih ditekuni. Beliau masih suka berkuda. Sebuah lukisan bahkan mengabadikan sang puteri dan kuda kesayangannya. Nah, saat peralihan kekuasaan dari Belanda ke Jepang, salah seekor kudanya dirampas Nippon dan disembelih buat makanan para tentara. Huhuhu, bayangkan betapa sedihnya hati sang puteri. :’(
Batik Surakarta dan Batik Jogja
Museum Ullen Sentalu memiliki koleksi batik tulis asli bikinan keraton Surakarta dan Jogjakarta. Sepintas bagi kita batik di mana-mana sama saja. Tapi ternyata tidak. Solo dan Jogja punya pakem sendiri-sendiri dalam rancangannya. Misalnya warna batik Jogja lebih cerah daripada batik Solo. Lalu batik Jogja selalu ada gambar “gordo” (burung garuda) yang bentuknya mirip logo Kemendiknas yang Tut Wuri Handayani itu. Ingat kan?
Motif batik biasanya daun-daunan, bunga, peralatan pertanian (misalnya parang), atau hewan (seperti gajah, harimau, menjangan, dan sebagainya). Khusus untuk motif hewan, gambarnya dibuat tidak terlalu realistis, melainkan “dipelintir” sedikit. Itu terkait larangan memvisualkan makhluk bernyawa dalam ajaran Islam. Bentuk pokok hewannya sih masih bisa dikenali, misalnya gambar gajah tadi tapi kakinya agak gimana gitu, terus belalainya diapain gitu, dan sebagainya.
Secara umum motif batik itu cakep-cakep. Dirancang oleh desainer kerajaan bahkan kadang oleh sultan sendiri. Hasil rancangannya hanya boleh dipake keluarga kerajaan, tidak boleh sembarang rakyat jelata memakai motif batik yang dipake sultan. Misalnya saat ini (tahun 2011) Sri Sultan Hamengkubuwono X sering menggunakan kain batik bermotif parang barong, yakni parang besar. Mbak Rani mengkritik seorang artis (atau siapa gitu) di sebuah acara TV yang berani-beraninya pake batik parang barong, sesuatu yang pantang dipakai rakyat biasa. Kalau di luar wilayah Jogja sih ok-ok aja. Tapi saat di Jogja, jangan coba-coba pake batik parang barong, apalagi kalo dipake mengunjungi keraton. Bisa berabe urusannya. Nanti kalo Sri Sultan sudah tidak menggunakan parang barong, baru deh kita-kita boleh mengenakannya. Oke?
Dewa Ganesha menyedot otak
Dewa Ganesha yang tampil di museum ini merupakan replika salah satu arca peninggalan Mataram Hindu. Ia adalah simbol ilmu pengetahuan. Wujudnya berupa kepala gajah berbadan manusia dengan empat tangan. Namun ada perbedaan antara Ganesha versi Indonesia dan India. Di Indonesia, belalai sang Dewa nampak sedang menjumput sesuatu di sebuah cawan yang dipegangnya. Sementara versi India lebih “kejam”. Dewa yang dijadikan simbol Institut Teknologi Bandung itu digambarkan sedang menyedot otak dari sebuah tengkorak manusia. Maksudnya tentu sedang menyerap kecerdasan dan pengetahuan dari dalam otak itu ya. Iiiiyyy, sereeemmm….
Tujuh rempah awet muda
Seperti gw bilang tadi, kita gak boleh ambil gambar selama dalam museum. Baru boleh foto-foto kalo dah sampe sebuah ruang istirahat di tengah perjalanan. Di ruang remang-remang itu tersedia beberapa tempat duduk dari kayu dan lemari berisi plakat kenang-kenangan. Sambil menunggu sesi kedua penjelajahan, kami disuguhi ramuan 7 rempah yang konon bisa bikin awet muda. Rasanya mirip banget sama minuman penawar pahit di jamu-jamu gendong: manis seger. Mungkin resepnya sama. Mbak Rani menantang kami untuk menebak apa saja 7 rempah yang digunakan untuk ramuan itu. Saat gw sebut “jahe, kayu manis, gula…”, Mbak Rani senyum-senyum aja. Rahasia jabatan ‘kali ya, hahahaha….
Penjelajahan berakhir di sebuah galeri. Di sana tersedia berbagai macam cindera mata. Semua bermotif tradisional, terutama batik, berpadu dengan desain modern kontemporer. Mulai dari batik kain, baju batik, tas cantik, dan beragam souvenir lainnya. Kami cuma lihat-lihat aja, gak tahan sama harganya, hehehe…. Tapi mbak-mbak pramuniaganya ramah-ramah kok. Mereka tetap bilang makasih walaupun kita gak beli apa-apa, hahahaha….
Tak lupa kami ucap terima kasih pada pemandu yang sangat ramah dan pandai bercerita itu. Tidak sempat kami berfoto bersama karena ia sudah ditunggu rombongan berikutnya. Makasih ya Mbak Rani. Maaf kita banyak tanya, jadinya molor deh, lebih dari satu jam menemani kami di museum yang sangat mengesankan ini. Kapan-kapan kita ketemu lagi ya….
Foto oleh: Suryadi van Batavia, Rakhman Sapta Ferdinansyah, dan Vidya Keumalasari.
[SvB]
















Komentar Terakhir