Mei 01 2009

Suryadi van Batavia

Yahoo! Mail Indonesia Merusak Thread Milis

Filed under Dunia Maya

Pernah ikutan milis di mana beberapa penggunanya menggunakan akun e-mail Yahoo! berbahasa Indonesia? Saya lihat ada yang aneh di situ.

Yang aneh di Yahoo! Mail Indonesia ini adalah dia memberi prefiks Bls: pada judul (subjek) di e-mail jawaban, alih-alih menggunakan Re:. Celakanya, e-mail client kita (termasuk Yahoo! sendiri) tidak menganggap ini sama dengan Re:, melainkan dianggap judul baru. Akibatnya bila ada user lain membalas pakai Yahoo!, akan berentetlah Bls: Bls: Bls: Bls: di depan judul postingan. Contohnya adalah di milis yang saya ikuti, b2w-jaksel. Di situ sampe ada postingan berjudul:

Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: Bls: [b2w-jaksel] Re: Acara Peresmian Diknas DKI Cycling Club.

Hal yang sama terjadi pada Fwd: yang dilokalkan menjadi Trs:.

Selain manjang-manjangin judul, buat saya pengguna Gmail, hal itu sering bikin bingung karena aksi berbalas posting jadi tercerai berai. Perlu diketahui, Gmail mengumpulkan posting-posting per thread sehingga kita tahu siapa yang memulai thread, siapa pembalas pertama, dan seterusnya. Lantaran balasan dari pengguna Yahoo! Mail yang berisi prefiks Bls: dianggap sebagai thread baru, maka e-mail balasan itu pun terlempar dari thread-nya semula.

Jadi sebenarnya, perlukah pelokalan Yahoo! Mail sampai melokalkan juga kode Re: (dan juga Fwd:) di judul e-mail?

2 responses so far

Nop 19 2008

Suryadi van Batavia

Kembung Ama Teh Manis

Filed under Makan Untuk Hidup

Suatu siang gw dan beberapa teman makan nasi padang di bilangan Grand Wijaya, Jakarta Selatan.  Masing-masing memesan nasi, lauk, dan minuman kesukaannya.  Selesai makan, datanglah kami ke penjaga warung, hendak membayar.

“Saya bawal, sama teh tawar,” kata gw sambil menyerahkan uang dua puluh ribuan.

Rifqi, temen gw menyusul, “Saya kembung ama teh manis.”

2 responses so far

Okt 17 2008

Suryadi van Batavia

Kopi Hanya Untuk Laki-Laki?

Filed under Adat dan Tradisi

Ishoma (istirahat sholat dan makan siang) baru saja usai. Kami kembali melanjutkan pekerjaan di kantor klien. Masuklah seseorang ke ruang yang disediakan untuk kami dan menawarkan, “Bapak Ibu mau kopi? Biar gak ngantuk gitu.”

Kami senyum mengiyakan. Rupanya ruang yang sejuk dan makan siang yang cukup telah membuat mata kami terasa berat. Tidak berapa lama, masuklah office boy & girl membawa nampan berisi enam cangkir kopi. Harumnya segera mengisi ruangan. Ia mengedarkan keenam cangkir itu kepada kami, lima orang lelaki dan seorang perempuan.

Tapi diperhatikan sekali lagi, ternyata tidak seluruh cangkir itu berisi kopi. Salah satu di antaranya adalah teh manis. Cangkir teh manis itulah yang dihidangkan kepada rekan wanita kami. Sementara sisanya disediakan buat kami para pria di ruangan itu.

Apakah tuan rumah salah mendengar pesanan kami? Atau rekanita kami minta teh manis saja tadi? Tidak. Sepertinya memang sudah jadi kebiasaan di masyarakat kita bahwa  kopi adalah konsumsi kaum adam, sementara kaum hawa hanya boleh meneguk air lunturan daun teh. Kejadian seperti itu pun tidak hanya terjadi satu atau dua kali. Hampir di tiap kesempatan seperti itu, di lain tempat dan lain waktu, kejadian yang sama selalu terulang.

Saya jadi bertanya, apa salahnya perempuan minum kopi?
_______________

Tulisan ini saya udarakan di:

8 responses so far

Okt 15 2008

Suryadi van Batavia

Sajadah Panjang dan Sajadah Lebar

Saya begitu terharu tiap mendengar Bimbo menyanyikan lagu Sajadah Panjang.

Ada sajadah panjang terbentang, dari kaki buaian
Sampai ke tepi kuburan hamba, kuburan hamba bila mati

(Sajadah Panjang oleh Bimbo)

Tapi coba deh ke mesjid saat shalat jumat atau ied.  Yang sering kita jumpai malah sajadah lebar, yang dibentangkan pemiliknya lalu dipakai sendiri.  Sajadahnya sih bagus, desain maupun bahannya, dan kayaknya sih mahal harganya.  Sayangnya, sajadah lebar itu membuat shaf kita longgar, tidak rapat. Sementara kita tahu, rapat dan lurusnya shaf menjadikan sempurna shalat berjamaah yang kita kerjakan.

Memang sih bukan sepenuhnya salah pemakai. Perancang sajadah punya andil juga.  Ia mungkin tidak sadar kalau produk yang dirancangnya bisa membuat shaf shalat jadi longgar. Buat dia, yang penting enak dan nyaman dipakai.

Jadi ada dua orang deh yang kita salahin.  Hehehe…. Ah, gak usah ah.  Lebih baik kita aja yang menyesuaikan.  Buat kamu-kamu yang suka bawa sajadah lebar buat shalat berjamaah, mendingan tuh sajadahnya dibentangkan melintang aja.  Posisi landscape, gitu.  Jangan membujur (portrait).  Jadi bisa kamu pakai bersama orang di sebelah kamu.  Lumayan kan berbagi kenyamanan dalam shalat, sekaligus memelihara kerapatan shaf demi sempurnanya shalat berjamaah.

One response so far

Okt 09 2008

Suryadi van Batavia

Telunjuk Cantengan Lantaran Nunjuk Kuburan

Filed under Adat dan Tradisi

Masa kecil yang indah pernah saya lewati bersama teman-teman di pinggiran Jakarta dengan main layangan di tanah lapang daerah Karang Tengah, Lebak Bulus.  Kampung yang sejuk itu bagian timurnya berbatasan dengan kelurahan Pondok Labu terpisah oleh sungai kecil yang belakangan saya ketahui bernama Kali Grogol.  Alamnya memang sejuk karena saat itu Jakarta belum berpolusi macam sekarang ini. Sering kali saya menggelar tikar pandan di bawah pohon, rebah-rebahan, dan akhirnya lelap tertidur dibuai angin semilir kampung besar Jakarta.

Bersebelahan dengan lapangan main layangan itu terpapar tanah pekuburan yang merupakan wakaf dari seorang tetua kampung.  Dia pun turut dimakamkan di situ.  Orang-orang memanggilnya Ki Tua Preket.  Nama yang mungkin tidak pernah dipakai orang lain mana pun di dunia ini.

***

Dalam satu kesempatan, saya dan beberapa teman terlibat obrolan soal saudaranya yang dikubur di tanah makam itu.
“Sudara lu kuburannya belah mana?”
“Tuh, yang deket pu’un jamblang,” katanya sambil menunjuk kuburan kecil dekat sebuah pohon.

Seorang teman yang lebih tua melihat kawan saya menunjuk kuburan, langsung mengingatkan.
“Eh, jangan nunjuk kuburan.  Cantengan lu!”

Cantengan?  Hihihi… Tau kan nih makhluk apa?  Bukan penyakit dalam.  Cantengan adalah luka bengkak bernanah di jari tangan atau kaki.  Biasanya bengkak itu karena tertusuk tepian kuku yang menekan kulit dan membuat luka.  Cantengan bisa awet berhari-hari kalau luka dibiarkan lembab.

Tentu saja kami tidak mau kena cantengan yang menyiksa itu.  Teman saya yang nunjuk kuburan kena nasihat lagi.
“Buruan, kolom tu telunjuk lu,” si penegur menyarankan agar dia mengulum jari yang tadi dipakai menunjuk kuburan.  Dengan mengulum, diharapkan ia terhindar dari kutukan cantengan.

Lalu si abang penasehat itu nambahin, kalo mau nunjuk kuburan, jangan langsung ke tanah kuburannya.  Itu telunjuk dibengkokin dikit atau nunjuklah pake mulut, jangan pake jari.

Hihihi… ternyata ada aja ya orang-orang yang menghubungkan antara cantengan dan nunjuk kuburan.  Takhayul, ah.

46 responses so far

Okt 08 2008

Suryadi van Batavia

Kornet Kedaluwarsa di AB Cirendeu

Salah satu pasar swalayan favorit di tempat kami (Cirendeu, Ciputat, Tangerang) adalah Aneka Buana. Setiap Sabtu dan Minggu selalu ramai oleh pengunjung yang belanja keperluan sehari-hari, baik makanan-minuman, perabot rumah, pakaian, maupun mainan anak-anak. Gw juga termasuk pengunjung setia supermarket ini.

Suatu hari saat ngiderin rak sayur dan bumbu dapur, kedua mata gw tertumbuk ke deretan kornet, produk olahan daging sapi yang seumur-umur baru sekali aja gw cobain. Itu pun dapetnya dalam bingkisan lebaran dari kantor dan ternyata gak sesuai selera.

Walaupun gak niat beli, iseng-iseng gw liatin tanggal kedaluwarsanya satu-satu. Weits! Lewat beberapa bulan! Gak cuman satu, tapi beberapa kaleng. Ck ck ck! Bisa rame nih kalo gw langsung teriak di tempat. Akhirnya gw taruhlah tuh kaleng-kaleng kornet di raknya, trus ndeketin seorang pramuniaga. “Mbak… mbak… coba lihat tuh, kornetnya banyak yang kadaluwarsa.”

Sang pramuniaga setengah kaget dapet info yang sangat berharga. Bergegas dia ke rak kornet, sementara gw ngeloyor pulang, gak menindaklanjuti hasil temuan. Lagi males.  Mudah-mudahan saat itu juga kornet-kornet basi itu ditarik dari raknya.

***

Di tulisan ini saya sengaja menggunakan kata “kedaluwarsa” dan “kadaluwarsa”. Mana yang benar? Mari kita lihat KBBI Daring (Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam Jaringan). Di sana, kata “kedaluwarsa”-lah yang terdaftar resmi. Sementara, “kadaluwarsa” membuat acuan ke “kedaluwarsa”.

21 responses so far

Okt 07 2008

Suryadi van Batavia

Menentukan Tarif Karikatur

Filed under Seni itu Indah

Bagaimana sih menentukan tarif pembuatan karikatur?  Terus terang gw bingung.  Berdasarkan luas (panjang kali lebar)-nya media gambar?  Warna atau hitam putihnya?  Jenis media dan tintanya?  Sepertinya (atau seharusnya) sih tidak menurut gw.  Karikatur adalah produk seni, bukan barang dagangan yang harganya diukur dari volumenya, besar kecilnya, atau bahan pembuatnya.

Seharusnya karikatur, sebagaimana produk seni lainnya, dihargai sesuai nilainya.  Dalam hal ini mungkin dilihat nilai itu dari sisi pemesannya.  Semakin penting dan berharga karikatur itu bagi si pemesan (pemakai), maka dapat dihargai tinggi.  Tapi tentu tidak mudah menentukan nilai itu ya.  Apa mungkin kita tanya dulu sama si pemesan, berapa besar nilai karikatur ini nanti bagi Anda?

Terus, gimana dong.  Masak sih segitu sulitnya menentukan nilai (harga) sebuah karikatur yang kita bikin.  Kalau begitu, gini aja.  Kita tetapkan nilai material media, tinta, dan segala bahan fisik pembentuk karikatur itu secara nominal rupiah.  Lalu nilai immaterialnya kita taksir sendiri dari nilai karikatur tersebut bagi pemesan (terserah gimana cara naksirnya).  Masukkan pula unsur kesulitan menentukan titik unik dari objek karikatur yang kita buat.  Soal faktor kesulitan ini juga suka diterapkan profesional di bidang lain, misalnya penerjemahan.  Mereka menetapkan tarif yang lebih tinggi bagi materi penerjemahan yang rada sulit.  Boleh juga masukkan unsur kelonggaran waktu antara diterimanya order pembuatan karikatur ini dan saat penyerahan hasilnya kepada pemesan tadi.

Entah bagaimana cara menetapkannya, gw dapat info bahwa para seniman di Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, menetapkan harga karikatur berwarna Rp 300.000 dan hitam putih Rp 250.000 sudah termasuk bingkai lukisannya.  Kalau gak salah, Budi Prihono kreator Ali Oncom suka majang karikatur-karikatur tokoh politik dan selebritis di pusat perbelanjaan itu.

Gw sendiri gimana?  Mmm, selama ini karikatur yang gw bikin cuman buat temen-temen dekat atau buat buku kelas dan majalah dinding sekolah.  Tentu saja dikerjakan tanpa imbalan, cuman buat cari nama.  Hahaha!  Hingga tibalah saatnya buat pertama kali gw terima bayaran secara profesional dari salah seorang temen buat bikin karikatur bosnya yang mau pindah kantor.

Lantaran blom bisa menentukan tarifnya, jadilah gw serahkan keikhlasannya menentukan sendiri tarif karikatur yang gw bikin.  Saat penyerahan hasil akhir, sebuah karikatur hitam putih di kertas gambar ukuran A3, gw disodorin amplop putih tertutup.  Isinya: Rp 150.000.  Hihihi!  Lumayan, buat pemula macam gw.

Kalau kamu gimana?

One response so far

Jul 02 2008

Suryadi van Batavia

AC Windows

ac-windows.jpg

AC Windows, Frezzer, Amplifire, Majig Jar, Sholhat.

Foto oleh Suryadi van Batavia

4 responses so far

Jun 27 2008

Suryadi van Batavia

Kantor Jadi Remang-Remang

Filed under Ramah Lingkungan

Dalam rangka kampanye penghematan energi, di kantor gw diadain satgas hemat energi.  Tugasnya memantau hal-hal yang kira-kira bisa dihemat, antara lain pemakaian lampu, AC, air, dan sebagainya.  Selama beberapa pekan ini tampaklah perbedaan intensitas cahaya di kantor gw.  Ruang kerja dan toilet hanya perlu dinyalakan lampu setengahnya (hanya satu dari dua saklar yang dinyalakan).  AC sentral pun tak sedingin dulu lagi.  Bahkan ruang janitor yang biasa kami pakai buat berwudhu kini bergelap-gelap ria, hanya mengandalkan pantulan cahaya dari luar ruangan.

Tangga darurat kena imbasnya.  Salah seorang temen gw yang rajin t2w (tangga to work) mengeluhkan bahwa jalur tangga darurat kini makin gelap lantaran banyak lampunya yang dimatikan.

One response so far

Apr 17 2008

Suryadi van Batavia

Maukah Kamu Membacanya?

Filed under Uncategorized

Kalau saya menulis sesuatu di blog ini, tentu itu dimaksudkan agar kamu-kamu juga bisa membacanya.  Maka dengan membaca ini berarti kamu telah membaca postingan pertama saya di blogdetik.  Kamu juga bisa mengunjungi blog saya yang lain, [Blogspot] Rumah Senja Suryadi van Batavia dan [Blogdetik] Transportasi Jakarta.

2 responses so far